Sabtu, 19 November 2011

"Tentang Islam" dari Catatan Sahabat

Diberbagai media khususnya website, blog, milis dan komunikasi maya lainnya, sudah terbiasa para musuh islam menggunakan segala cara untuk menjatuhkan dan membuat opini publik bahwa ajaran islam adalah biadab, teroris, brutal, kasar, dan tidak toleran. Nabi Muhammad yang notabene nabi umat islam itu adalah gila seks, suka perang, dan penebar kebencian. Agama islam adalah agama yang penyebarannya lewat pedang, pemaksaan, teror, pembunuhan dan kebiadaban-kebiadaban modern lainnya yang menurut tafsir mereka adalah benar adanya. Astaughfirullah...

Padahal islam sendiri sudah mengatakan :
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah: 256). 

Sudah sangat mengakar pada otak kiri “Musuh-musuh Islam” bahwa agama islam bisa berkembang di jagad ini tidak lain adalah menggunakan Pedang !. Islam adalah agama Pedang , bisa bertambah banyak karena gorok leher kafir, untuk mendapat kapling disurga salah satunya adalah gorok leher kafir, tidak seiman wajib dibunuh, ibarat gengster yang bila mana ada anggotanya yang meninggalkan geng tersebut, maka wajib digorok atau halal darahnya.
Pemikiran – pemikiran yang sangat distorsi ini telah menjadi makanan sehari-hari mereka, sehingga kebencian yang mendalam dapat kita lihat dari apa yang keluar dari mulut mereka, yaitu agama teror dan kebiadapan modern. Hal ini bisa terjadi karena mereka belum mempelajari islam secara kaffah, mereka mempelajari islam karena kebencian dan sikap permusuhan yang sangat! dan juga karena doktrin yang memang sudah di ajarkan dari kecil untuk membenci Islam dan Muhammad berserta semua Ajarannya.
Bagaimana bisa “musuh-musuh Islam” mengatakan bahwa Muhammad menyebarkan agamanya dengan menggunakan pedang? Dia memaksa orang masuk Islam dengan menggorok leher orang? Sebaiknya mereka membuang jauh-jauh pemikiran Keji lagi biadab seperti itu.

“Bagaimanapun sejarah jelas menerangkan bahwa legenda tentang penaklukan Muslim terhadap dunia dan memaksakan Islam dengan menggunakan pedang adalah suatu cerita yang tidak masuk akal yang sering diceritakan oleh ahli sejarah.” (De Lacy O’Leary dalam Islam at the Crossroad (Islam di Persimpangan Jalan), London, 1923)

“Semakin saya pelajari semalam saya temukan bahwa kekuatan Islam bukan berasal dari pedang.” Mahatma Gandhi, Bapak India Modern dalam “Young India” (India Muda).

“Mereka (pengkritik Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) melihat api bukannya cahaya, mendapat kebodohan bukan kebaikan. Mereka mengubah setiap kebaikan dengan kejahatan yang besar. Ha1 ini menggambarkan kebejatan moral mereka….kritikan tersebut adalah buta. Mereka tidak bisa melihat bahwa satu-satunya pedang Muhammad adalah pedang kemurahan hati, petunjuk, persahabatan, kemauan untuk memafkan pedang yang menaklukan musuh-musuhnya dan membersihkan hati mereka. Pedangnya lebih tajam daripada pedang baja.” {Pandit Gyanandra Dev Sharma Shastri, pada suatu rapat di Gorakhpur (India), 1928}

“Beliau memilih untuk hijrah daripada harus berperang melawan rakyatnya sendiri; tetapi ketika penindasan mereka sudah di luar batas toleransi barulah beliau mengangkat pedang untuk membela diri. Mereka yang percaya bahwa suatu agama bisa disebarkan dengan kekerasan adalah orang yang bodoh yang tidak tahu jalannya suatu agama ataupun jalannya dunia. Mereka bangga dengan kepercayaannya karena mereka berada di suatu jalan, jalan yang jauh dari kebenaran” (Seorang jurnalis Sikh dalam Nawan Hindustan, New Delhi, 17 November 1947)

Saya harap pemikiran yang picik dan sangat tidak adil seperti yang telah dilakukan oleh “musuh-musuh islam’ tidak menjadi santapan bagi mereka, agar umat islam tidak diinjak-injak bagaikan budak yang menjadi bulan-bulanan di Zaman ini.

Wassalam
Hendra Wijaya

Tudingan Wahabi Kontributor Teror Bom Tak Pernah Terbukti



(Tanggapan untuk Tulisan KH. Said Aqil Siradj)
Oleh: Artawijaya
Wartawan dan Penulis Buku
PASCA serangan bom bunuh diri di GBIS Kepunton Solo, perbincangan mengenai kaitan antara terorisme dan doktrin Wahabi kembali mencuat di media massa. Setidaknya hal itu tercermin dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj pada harian Republika (3/10/2011). Artikel berjudul “Radikalisme, Hukum, dan Dakwah” ini menarik untuk dicermati, karena KH Said Aqil telah mengaitkan antara pergerakan dakwah Wahabi dengan radikalisme. Beliau bahkan membuat istilah baru tentang dakwah Wahabi, yaitu “ideologi puritanisme radikal.”
Kita tentu bersyukur, seorang ketua umum sebuah organisasi massa besar seperti KH Said Aqil Siradj begitu peduli terhadap teror bom yang banyak menimbulkan korban dari masyarakat yang tak bersalah. Bahkan sebenarnya bukan hanya KH Said Aqil Siradj, tokoh yang sering dikait-kaitkan dengan kasus terorisme seperti KH Abu Bakar Ba’asyir (ABB) pun mengecam aksi bom di Cirebon dan Solo sebagai tindakan ngawur yang jauh dari pemahaman syariat. Pada beberapa kesempatan, ABB menyatakan bahwa Indonesia adalah wilayah aman yang karenanya Islam harus ditegakkan lewat cara-cara damai.
Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari artikel Kiai Said di atas, yang terkesan seperti menabur angin, mengenai siapa saja yang dianggap sebagai Wahabi. Dalam beberapa alineanya, artikel tersebut bahkan seperti mengumbar stigma yang gebyah uyah. Jika tak dikritisi, tulisan tersebut bisa menimbulkan ragam penafsiran di masyarakat dan generalisasi terhadap kelompok yang dituduh mengusung dakwah Wahabi. Sehingga hal ini bisa berpotensi memicu konflik sosial di akar rumput, sebagaimana terjadi pada sebuah pengajian hadits di Klaten, Jawa Tengah, yang nyaris dipaksa bubar karena dianggap bagian dari dakwah Wahabi.
....Jika tak dikritisi, tulisan Kiai Said berpotensi memicu konflik sosial di akar rumput, seperti terjadi di sebuah pengajian hadits di Klaten, yang nyaris dipaksa bubar karena dianggap dakwah Wahabi....
Di antara kalimat yang bisa menimbulkan bias pemahaman dan stigma dari  tulisan KH Said Aqil adalah, “Kita bisa mencermati pergerakan paham Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah memasuki wilayah pendidikan dengan menyuntikkan ideologi puritanisme radikal, semisal penyesatan terhadap kelompok lain hanya karena soal beda masalah ibadah lainnya. Di berbagai daerah bahkan sudah terjadi ‘tawuran’ akibat model dakwah Wahabi yang tak menghargai perbedaan pandangan antar-muslim. Model dakwah semacam ini bisa berpotensi menjadi ‘cikal bakal’ radikalisme.”
Pada alinea lain, KH Said Aqil mengusulkan agar dilakukan “sterilisasi” masjid-masjid yang berpotensi menjadi sarang kelompok puritan radikal, sebuah kelompok yang menurutnya seringkali menimbulkan “tawuran” di tengah masyarakat. Dalam kesempatan lain, KH Said Aqil bahkan meminta masyarakat untuk mewaspadai 12 yayasan dari Timur Tengah yang ditengarai mendapat suntikan dana dari kelompok Wahabi. Tulisan KH. Said Aqil Siradj yang dimuat dalam harian ini seolah menyatakan bahwa memerangi ideologi teror sama dengan memerangi ideologi puritan radikal yang diusung oleh kelompok yang ia sebut sebagai Wahabi. Kelompok yang saat ini menurutnya mengendap-endap di dunia pendidikan, membawa suntikan beracun berisi “ideologi puritan radikal”.

Antara Wahabi dan Terorisme

Stigma Wahabi merujuk pada sosok ulama abad ke-18 bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimy An-Najdi. Gerakan dakwahnya mengusung tajdid dan tashfiyah  (pembaharuan dan pemurnian) akidah kaum muslimin dari beragam kemusyrikan dan amaliah yang tidak diajarkan oleh Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang dai yang tak pernah menyebut kiprah dakwahnya dengan penamaan dakwah Wahabi atau tak pernah mendirikan organisasi dakwah bernama Wahabi. Istilah Wahabi baru muncul belakangan, itupun dengan tujuan stigmatisasi oleh mereka yang tak setuju dengan pemikiran yang diusung dalam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
Di Indonesia, stigma Wahabi juga pernah dilekatkan pada ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (PERSIS). Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, Ahmad Hassan, dianggap sebagai pengusung paham  Wahabi di Indonesia. Bahkan, jauh sebelum itu, pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol pun pernah disebut sebagai pengusung dakwah Wahabi. Baik Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ataupun generasi dakwah selanjutnya di seluruh dunia yang sepaham dengan pemikirannya tak pernah ada yang dengan tegas menyatakan dirinya sebagai Wahabi.
KH Said Aqil Siradj dalam tulisannya tak menjelaskan siapa saja atau kelompok mana saja yang masuk dalam kategori puritan radikal pengusung dakwah Wahabi. Ia hanya menjelaskan, kelompok tersebut tak menghargai perbedaan  dan mudah memberikan label sesat pada sesama Muslim lainnya. Sama tak jelasnya, ketika ia melontarkan pernyataan bahwa ada 12 yayasan milik Wahabi yang perlu diwaspadai yang kini beroperasi di Indonesia. Apa saja yayasan itu, kenapa perlu diwaspadai, adakah pelanggaran baik dari sisi hukum nasional ataupun hukum Islam dari 12 yayasan tersebut sehingga layak untuk diwaspadai tak pernah dijabarkan. Sekali lagi, apa yang dilontarkan KH Said Aqil seperti menabur angin, menerpa siapa saja yang dianggap sebagai Wahabi. 
Jika merujuk pada banyak kasus yang terjadi di basis-basis NU, maka kelompok puritan radikal atau Wahabi yang dimaksud KH Said Aqil adalah mereka yang membid’ahkan tahlilan, tawassul, ziarah kubur, maulid Nabi, dan amaliah lainnya yang menjadi tradisi di kalangan Nahdliyin. Kriteria inilah yang sering diungkapkan oleh KH Said Aqil di media massa ketika menyoroti kiprah kelompok yang ia sebut sebagai “Wahabi.” Namun, adakah kaitannya antara kelompok yang berdakwah untuk menjauhi bid’ah dalam urusan ibadah  dengan kelompok teroris?
Nyatanya seluruh ormas Islam di Indonesia, baik yang meyakini bolehnya tahlilan atau tidak, sepakat bahwa aksi pengeboman di zona damai adalah perbuatan yang diharamkan Islam, apalagi pemboman yang terjadi di tempat ibadah. Bom yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan jihad tentu mencoreng nama Islam. Islam mengajarkan syariat jihad dengan batasan dan aturan yang ketat dan rinci. Jihad tidak mengedepankan hawa nafsu dan serampangan. Jihad sangat menghargai nilai-nilai dan hak asasi manusia, termasuk di dalamnya hak-hak sipil. Dalam perang, musuh yang menjadi target adalah para combatan dan basis-basis militer, bukan orang-orang sipil, fasilitas umum, dan tempat-tempat ibadah.
....menyebut dakwah Wahabi sebagai kontributor aksi teror bom tak pernah bisa dibuktikan. Stigmatisasi itu tak lebih daripada memukul bayang-bayang....
Akhirul kalam, menyebut dakwah Wahabi sebagai kontributor aksi teror bom tak pernah bisa dibuktikan dengan jelas. Stigmatisasi itu tak lebih daripada memukul bayang-bayang. Kita tentu tak sepakat dengan sekelompok orang yang mudah mengafirkan muslim lainnya hanya karena urusan khilafiyah. Kita juga tak setuju dengan pola-pola dakwah yang eksklusif, merasa paling benar, dan jauh dari nilai-nilai akhlaqul karimah.
Jika ada perbedaan dalam urusan dakwah, maka selesaikan dengan jalan dialog. Begitupun jika terjadi perbedaan pendapat dalam hal furu’iyah maka kedepankanlah sikap tasamuh  (toleran). Stigmatisasi  yang tak jelas di tengah prahara terorisme akan menambah beban masalah yang melebar ke mana-mana. Selain persoalan ideologi yang menyimpang, akar dari terorisme adalah ketidakadilan global yang melanda negeri-negeri Muslim. [Sumber: Republika]

Detachment Inhuman! Unexpected Terrorist Activist Tortured in Front of the Children Toddlers


JAKARTA, INDONESIA - Drama savagery Detachment 88 returned troops paraded on the stage of the country who claim high menjujung Human Rights (Human Rights). This happens when the unexpected capture Terrorist Detachment named Dian Adi Priyana (DAP) in the Market Mosquitoes Cipondoh South Tangerang, Saturday (11/12/2011) then.To voa-islam.com, Umm Yasmin, wife of suspected terrorists Dian Adi Priyana who witnessed the arrest and torture of her husband tells the seconds savagery Detachment.That morning, at approximately 7:30 pm, Dian Adi Priana terrorist suspects called police associated with the network is being ushered Omar Abdullah's wife and two children by driving the motor to the market for shopping. When he reached near the SDN 3 Cipondoh, about 50 yards from the house rented, the bike suddenly stopped forcibly by Team Detachment 88. After forcibly stopped his bike and then deflected toward the gutter, then a member of Detachment 88 gun toward Dian with very rough. Meanwhile, other members of the Detachment of the motor dragged, hit, kicked and stomped on it until his mouth bled.Very very inhuman, inhuman persecution was committed in front of his wife and two children named Dian Azzam (4.5) and Shamil (1.5).Do not stop there, with a nasty, two toddlers were also received harsh treatment from the team Detachment 88, the same as their father. Azzam was hurt because the bike fell to the gutter continued to cry to see her father is treated harshly. Shamil Semantara 1.5-year-old snatched away by force by a team of Detachment 88 to jet her temples.A moment later, dozens of officers from the Detachment Handcuffs swarm terrorist suspects Priyana Dian Adi with his wife and two children who continue to cry out of fear. Do not want to bother, Umm Yasmin and her two children were transported into the white Avanza, while Dian himself elevated to another black car. From inside the car, Umm Yasmin and her two children heard shouting Takbir of Dian who was tortured by members of Detachment 88. Shouting Takbir is made a member of Detachment 88 was angry and then they took the tape from the car boarded by Umm Yasmin and her two children."With duct tape my husband's mouth is silenced, probably because they hate the sound Takbir," said Umm Yasmin to voa-islam.com, Monday (15/11/2011).After that, Umm Yasmin and her two children were taken to the Police while Dian own Cipondoh either taken to another place, who knows where.Apparently not satisfied exposing police atrocities in Dian tortured in front of his wife and two children. That day the police picked up two girls named Dian Shifa (11) and Yasmin (9) who were at school to be brought to the Police Cipondoh. Umm Yasmin and her four children were detained in police Cipondoh from 8 am until late at night. Hours of 21.00 pm they had a ride home.While in prison, Umm Yasmin and her four children, two of whom were toddlers, forced to watch the drama of savagery Detachment 88 who tortured their husbands and fathers.The impact of inhuman events it, obviously Umm Yasmin, the fourth son, especially Azzam and Shamil are still toddlers, is still traumatized and often cried when recalling the events of torture that befell their fathers.Unfortunately, little kids are the generation of innocent people and terrorists do not understand what it is. But Detachment has been presenting the acts of terror to the children holy. Children who are innocent victims of terror and intimidation from the state through its agents that he upholds human rights.Dian is a matter of allegations that members of terrorist networks Zulfikar alias Omar Abdullah who has a firearm, Umm Yasmin dubious accusations. As a wife Dian, he never saw or know of any firearms in the hands of her husband.Through this story, Umm Yasmin hopes that her screams heard by human rights activists or warriors of the National Commission on Child Protection. [Taz, af]

(by: voa-islam.com)

Sebelum Kunjungi Indonesia, Obama Bertemu Rahasia dengan Uskup Agung

NEW YORK – Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan datang ke Indonesia untuk menghadiri KTT ASEAN tanggal 17-19 November 2011 di Bali. Beberapa hari sebelum bertolak ke Indonesia, Obama bertemu secara diam-diam dengan Uskup Agung New York,  Mgr Timotius Dolan di Gedung Putih, Selasa (8/11/2011).

Uskup Agung Dolan adalah Ketua Presidium Konferensi Waligereja Amerika Serikat (U.S. Conference of Catholic Bishops/USCCB).
Mereka membahas berbagai isu yang berkaitan dengan hubungan yang seringkali mengalami gesekan antara pemerintah dan hirarki Gereja AS.
Jurubicara dari Gedung Putih membenarkan pertemuan itu, tapi juru bicara USCCB menolak untuk mengkonfirmasi atau menyangkal pertemuan tersebut.
Pertemuan itu terjadi sebelum pertemuan pleno dari USCCB di Baltimore di mana para uskup akan membahas panitia ad hoc baru mereka tentang kebebasan beragama.
Pertemuan itu terjepit di antara dua perjalanan luar negeri Obama ke Prancis untuk menghadiri pertemuan G-20 dan ke Asia.
Seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara dengan NCR tentang latar belakang dari pertemuan itu mengatakan bahwa pertemuan adalah bagian dari pekerjaan pemerintah Obama dengan para pemimpin agama dari seluruh spektrum, dan merupakan salah satu di antara banyak pertemuan dengan para pejabat dari Gereja Katolik dan pemerintah.
Pejabat itu juga mencatat bahwa pemerintahan Obama telah memiliki kemitraan yang kuat dengan organisasi-organisasi Katolik seperti Catholic Relief Services dan Catholic Charities USA untuk melayani individu dan keluarga yang membutuhkan di seluruh negeri itu dan dunia.
Sementara itu, Uskup Agung Timotius Dolan menyatakan, dalam pertemuan tersebut dirinya membahas masalah-masalah yang menjadi perhatian gereja. Menurut Dolan, Obama sungguh bersahabat dan menjamin bahwa pemerintah akan memperhatikan masalah-masalah tersebut. “Saya merasa tenang dan damai ketika memasuki ruang  kerja Obama untuk membahas isu-isu ini,” ujar Dolan. [silum/catch, sp] Sumber:  (voa-islam.com)


Ba'asyir: Kafir Harbi Obama Wajib Diperangi, Kedatangannya Bawa Fitnah

JAKARTA – Dari balik terali besi, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir tetap vokal menyuarakan syariat Islam sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Mendengar rencana kedatangan Barack Obama untuk yang ke sekian kalinya ulama kharismatik paling dimusuhi Amerika ini kembali menyampaikan kecaman terhadap Presiden AS  Barack Obama yang berencana menghadiri ke KTT ASEAN di Bali.

Menurut Ustadz Abu, Obama itu mewakili kepentingan Amerika yang menurut syariat Islam, statusnya adalah kafir harbi sehingga menolak kedatangannya adalah wajib. “Obama dan Amerika itu hukumnya kafir harbi. Jadi menolak kedatangannya itu hukumnya wajib menurut kemampuan. Kita wajib membenci, kita tidak boleh menyukai karena dia kafir harbi yang merusak Islam. Siapa saja yang menolak kedatangan Obama sesuai kemampuannya kita hargai,” ujarnya kepada voa-islam.com, Selasa (15/11/2011).
Karena status Obama adalah kafir harbi, jelas Ustadz Abu, maka menurut Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 29, seharusnya Obama diperangi, bukan disambut dan dihormati sebagai tamu.
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (Qs At-Taubah 29).
“Jadi, kita itu harusnya memerangi kalau mampu bukan malah menyambut. Kalau tidak mampu memerangi ya jangan diterima kedatangannya,” jelas Ustadz Abu. “Kedatangannya itu mesti membawa fitnah karena Amerika sudah mengumumkan perang salib. Sejak George W Bush laknatulllah itu dia sudah mengumumkan perang salib,” tambahnya.
Ustadz Abu mewanti-wanti kepada umat Islam agat tidak berkasih sayang terhadap musuh yang memerangi Islam, karena perbuatan itu dilarang menurut syariat. “Kita tidak boleh berkasih sayang terhadap musuh Allah, seperti dalam surat Al-Mujadilah 22: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka…” tutupnya. [ahmed widad]       Sumber: (voa-islam.com)

Mau Pisah dari NKRI, Papua Minta Obama Intervensi Pemerintah SBY

MANOKWARI  – Obama Datang Papua Senang. Kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia dimanfaatkan oleh separatis Papua Barat untuk memisahkan diri dari NKRI. Mereka berharap pada Obama agar mendukung kemerdekaan  Papua Barat dengan mengintervensi Pemerintah RI.

Bersamaan dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia, ribuan orang yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Dewan Rakyat Papua menggelar unjuk rasa besar-besaran di Manokwari, Papua Barat, hari Kamis (17/11).
Para pengunjuk rasa yang mengarah ke kantor DPRD Papua Barat itu menyerukan pemisahan Papua dari Indonesia dan membawa petisi berisi pernyataan rakyat.
Tokoh masyarakat dan gereja Papua Barat, ML Wanma, mengatakan isi petisi itu antara lain mempertegas pernyataan kemerdekaan Papua.
"Papua sudah merdeka sejak Kongres Rakyat Papua III di Jayapura sekaligus telah terbentuk pemerintahan transisi," kata Wanma.
"Kedua, karena kami sudah merdeka maka kami menolak semua jenis tawaran pemerintah Jakarta," tambah dia.
Selain itu, lanjut Wanma, dengan pernyataan kemerdekaan ini maka mereka tidak lagi memikirkan opsi referendum.
Petisi itu kemudian diserahkan kepada DPRD Papua Barat yang diharapkan meneruskannya ke pemerintah pusat di Jakarta.
Selain menyampaikan petisi untuk pemerintah Indonesia, para pengunjuk rasa juga meminta Obama memberikan dukungan penuh untuk kemerdekaan Papua.
"Saya sudah menyurati kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta dan pihak kedutaan merasa senang karena kami mempercayai Presiden Obama," ujar Wanma. "Rakyat Papua meminta Obama menggunakan pengaruhnya untuk mendesak Jakarta mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan masalah di sini," tambahnya.
Saat ditanya apakah muncul kekhawatiran pemerintah akan menanggapi dengan keras pernyataan kemerdekaan ini, Wanma mengatakan dirinya hanya berharap masyarakat sudah siap dengan konsekuensinya.
"Saya tidak tahu apakah kami siap menghadapi militer Indonesia. Kami dengan TNI sudah menambah dua batalion di Papua Barat," ujar rohaniwan ini.
"Tapi saya kira menyelesaikan masalah Papua dengan menggunakan kekuatan militer bukan solusi yang tepat," tegas Wanma.
Situasi politik Papua memanas setelah aparat keamanan membubarkan Kongres Rakyat Papua III di Jayapura, pertengahan Oktober lalu.
Pemerintah sejauh ini berupaya mengedepankan dialog untuk menyelesaikan masalah di provinsi paling timur itu.
Selain itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah membentuk Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang diharap bisa mempercepat penyelesaian masalah Papua. [taz, up/bbc] Sumber: (voa-islam.com)

Menelanjangi Upaya Salibis Memutarbalikkan Fakta Kerusuhan Ambon‏

AMBON – Setelah melakukan penyerangan dan pembakaran terhadap masjid dan ratusan rumah warga Muslim Ambon, pihak perusuh Salibis berusaha memutarbalikkan fakta untuk menanamkan opini bahwa biangkerok kerusuhan Ambon adalah pihak Muslim.

Insiden kerusuhan Ambon 9/11 adalah salah satu fakta kebiadaban Salibis Ambon terhadap umat Islam. Dalam tragedi berdarah pada Ahad, 11 September 2011 itu, seribuan perusuh Salibis menyerang warga Muslim di Kampung Waringin Ambon. Masjid dan ratusan rumah dibakar dan dirusak, tujuh aktivis Muslim gugur dan puluhan lainnya luka-luka terkena bom dan tembakan.
Sampai detik ini, fakta-fakta tersebut bisa disaksikan di Kampung Waringin yang masih menjadi puing-puing. Kampung Muslim di Ambon ini menjadi kota mati yang tak berpenghuni, lantaran ratusan rumah yang hangus ini belum direnovasi dan tak bisa dihuni lagi.
Fakta bahwa pihak salibis adalah biang kerusuhan Ambon terlalu banyak untuk diungkapkan. Sebagian kecil dari fakta yang telah disebutkan di atas di antaranya adalah:
Sebulan pasca insiden 9/11, para perusuh Salibis mengulangi lagi kebiadabannya dengan peristiwa penyerangan permukiman Muslim di Jalan Baru pada 20 Oktober 2011pukul 04.00 WIT dinihari.
Pada hari yang sama, dua orang perusuh Kristen warga Batu Gantung (wilayah Kristen) yang bernama Franky Siwalete dan Raymonel Tenu. Keduanya tertangkap tangan membawa 2 pucuk senjata api rakitan, 10 butir peluru kaliber 38 mm dan KTP Negara Republik Maluku Serani (RMS).
Tiga hari sebelum insiden penyerangan ini, aparat menemukan 24 bom rakitan aktif di Lorong Farmasi Kudamati (wilayah Kristen.
Meski fakta-fakta menunjukkan bahwa pihak Salibis adalah biang kerusuhan, namun mereka gencar memutarbalikkan fakta untuk membentuk opini bahwa pelaku kerusuhan adalah pihak muslim sedangkan pihak Kristen adalah korban.
Di antara makar dan akal bulus salibis untuk memutarbalikkan fakta adalah sbb:
1. Pelemparan bom rakitan di depan hotel Josiba Jalan Tulukabessy pada tanggal 20 oktober 2011 pukul 23.30 WIT. Kejadian selang 20 jam setelah peristiwa penyerangan permukiman Muslim di Jalan Baru tersebut dilakukan oleh pihak Salibis sendiri.
Insiden ini adalah upaya pemutarbalikan opini untuk menegatifkan citra umat Islam sebagai pelaku kerusuhan.
Padahal secara logika, tidak mungkin pelaku pelemparan Bom adalah dari pihak Muslim, karena mustahil ada orang muslim yang masuk ke wilayah Kristen pada malam hari setelah siang harinya terjadi kerusuhan. Pasca bentrok, pengamanan oleh aparat sangat ketat sehingga jika ada orang muslim masuk ke wilayah Kristen atau sebaliknya, maka akan berurusan dengan aparat.
Selain itu, bom yang meledak tersebut berdaya ledak sangat rendah yang hanya meretakkan sebuah ubin dan tidak melukai seorang pun karena memang dilempar di tempat yang tidak ada orang. Logikanya, jika pelaku pelemparan adalah orang Islam untuk mencelakakan orang, tentu bom yang dipakai bukan sekelas petasan dan bukan dilempar di tempat kosong dari target.
2. Beberapa warga Kristen Mardika yang rumahnya berdekatan dengan permukiman Muslim, sengaja membongkar rumah mereka sendiri, lalu mengungsi.
Dalam pengamatan voa-islam.com di lokasi, ada dua rumah di antaranya adalah milik VM (48) berprofesi sebagai tukang ojek dengan 6 orang anak, dan rumah milik S (38) seorang wiraswata dengan 3 orang anak. Kedua keluarga tersebut sekarang mengungsi di belakang kantor DPRD Ambon di daerah Belakang Soya.
Ketika membongkar rumahnya kedua keluarga tersebut meminta pengawalan anggota TNI yang bertugas di Mardika.
Pembongkaran rumah milik warga Kristen di Mardika oleh pemiliknya itu menciptakan opini seolah-olah kaum Muslimin telah melakukan pembongkaran dan penjarahan terhadap rumah milik warga Kristen sehingga mereka mengungsi di tempat yang aman karena rumah mereka tidak bisa lagi ditempati.
Selain itu, strategi ini bisa bermotif ekonomi untuk mendapatkan dana bantuan pengungsi berupa makanan dan uang untuk pembangunan rumah yang rusak akibat konflik. Kisaran bantuan pembangunan rumah dari Pemda sebesar Rp 24 juta bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat akibat kerusuhan.
3. Pelemparan rumah milik warga Kristen di Waiheru oleh pemuda Kristen selama 2 bulan sejak kerusuhan 11 September 2011.
Seperti diberitakan oleh voa-islam.com sebelumnya, dua kampung Islam dan Kristen di Perumnas Waiheru kecamatan Teluk Ambon Baguala bersitegang, karena kerapnya terjadi insiden pelemparan batu ke rumah warga. Pihak Kristen gencar menuding warga Muslim sebagai pelaku pelemparan batu.
Senin (7/11/2011), anggota TNI dari Koramil 1504-01 Baguala berhasil menangkap basah pelakunya, yaitu Rony Kontor Mole (25), seorang pemuda Kristen. Motifnya adalah mengadudomba dan memprovokasi dua kampung Islam dan Kristen. (baca: Provokator Salibis Biang Kerusuhan Antar Kampung di Ambon Tertangkap‏!)
Tiga fakta di atas hanyalah sebagian kecil upaya pihak salibis untuk memutarbalikkan fakta tentang kerusuhan Ambon dan pembentukkan opini bahwa seolah-olah pemicu dan pelaku kerusuhan di Ambon adalah kaum Muslimin. Mudah-mudahan Kaum Muslimin Ambon tetap waspada terhadap makar licik salibis. Wamakaruu wamakarallah, wallahu khairul maakiriin. [taz, af] Sumber: (voa-islam.com)